admint

Bupati Sumbawa Barat Resmikan Pabrik Rumput Laut

By admint on September 4, 2020

Komitmen Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk menjadikan Kertasari sebagai agroindustri rumput laut akhirnya menunjukkan hasil. Tahapan dan kerjasama dalam pengembangan agribisnis Rumput Laut KSB yang cukup panjang yaitu sejak 2009, berujung pada peresmian pabrik di Kertasari. Pada 15 Juni 2015, telah diresmikan Pabrik Rumput Laut oleh Bupati Sumbawa Barat, dihadiri oleh Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB)-Direktur CV Ocean Fresh, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi, Unsur Muspida, dan masyarakat.

Kepala Bappeda KSB, Dr.Ir.H.Amry Rakhman,M.Si, dalam pembukaannya menyebutkan bahwa pengembangan agribisnis rumput laut sudah cukup lama, diawali sejak tahun 2009. Jumlah petani pembudidaya rumput laut tahun 2012 sebanyak 1.086 orang atau 412 RTP dengan 37 POKDAKAN. Total luas areal budidaya sekitar 306,60 Ha. Total produksi sekitar 9937,88 ton basah atau sekitar 2981,30 ton RL kering tahun 2012. Pada tahun 2011, pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk merangsang berkembangnya AB/industri rumput laut.

Sedangkan pada Tahun 2012, industri rumput laut ditetapkan sebagai Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) KSB, dengan Permen Perindustrian RI No.136/M-IND/PER/12/2012. Pemerintah KSB memperoleh bantuan seperangkat mesin dan peralatan industri rumput laut (untuk Alkali Treated Carragenan, ATC) dari Kementerian Perindustrian RI Tahun 2012. Selain itu, ditetapkan pula Kawasan Sentra dan Kawasan Pendukung Rumput Laut KSB sebagai Kawasan Minapolitan Percontohan Tahun 2012 melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Tahun 2013-2014, Pemerintah KSB menyediakan lahan dan menambah kapasitas bangunan Pabrik Industri Rumput Laut Kertasari KSB.

Setahun kemudian, pada Januari-Mei 2015, Pemerintah KSB dan Koperasi Depo Pasir Putih Kertasari menjalin dan memantapkan hubungan kerja sama (Kemitraan Usaha) dengan CV.Ocean Fresh-Bogor untuk menyempurnakan sarana prasarana pendukung, serta penataan kelembagaan dalam Operasional Pabrik Industri Rumput Laut Kertasari KSB, serta Peresmian Pabrik Industri Rumput Laut Kertasari KSB.

Jenis usaha pendukung industri rumput laut di KSB, yaitu usaha budidaya rumput laut, yang dilengkapi dengan penyediaan sarana dan prasarana budidaya rumput laut; pemasaran produk rumput laut dalam bentuk rumput laut basah (bibit), rumput laut kering (lokal dan antarpulau), dan produk olahan rumput laut (dodol, pilus, es, jajanan, dan produk olahan lainnya); pemberdayaan kelembagaan dan pelaku agribisnis rumput laut secara keseluruhan.

Prof.Dr.Ir.Hj.Linawati Hardjito, M.Sc., selaku peneliti dan Direktur CV.Ocean Fresh dalam sambutannya, mengatakan bahwa dia memiliki tugas untuk mengimplementasikan teori menjadi praktek yang berguna bagi masyarakat. Dia juga mengemukakan komitmen IPB dalam membina UKM yang ada di KSB.

“Saya sudah mencintai daerah ini dengan memperoduksi bahan-bahan dari rumput laut secara alami dan tanpa bahan pengawet. Saya ingin kita semua bekerja dari hati, karena dengan hal tersebut kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Dan saya ingin pabrik ini diresmikan setelah berjalan sejak kurang lebih 1,5 bulan yang lalu”, ungkapnya.

Menurutnya, Pabrik Rumput Laut di Kertasari, KSB, merupakan yang pertama beroperasi di NTB. IPB dan CV Ocean Fresh siap untuk mengambil hasil produk dari masyarakat. Beberapa agenda lain yang telah dilaksanakan untuk melakukan promosi adalah membuat video promosi produk Kertasari yang akan disebarkan ke seluruh dunia. Pada Bulan April lalu, Majalah Tempo Edisi English juga telah meliput tentang Kertasari.

Dengan berbagai agenda tersebut, harapannya, Rumput Laut bisa menjadi keunggulan daerah yang diharapkan dapat menjadi faktor pengungkit menuju ke arah kemandirian ekonomi daerah. Atas kerjasama multi-pihak, wilayah pesisir Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang, telah menjadi sentra pengembangan rumput laut di Sumbawa Barat, dan bahkan salah satu supply terbesar rumput laut di Provinsi NTB. [nh]

Produk Laut yang Bikin Cantik

By admint on September 4, 2020

Lautan memang menyimpan hasil alam kaya nutrisi. Tidak hanya bagi kesehatan tubuh, tapi juga nutrisi untuk kesehatan dan kecantikan kulit.

Seafood dikenal kaya akan kandungan protein, vitamin, dan mineral. Konsumsi seafood dalam jumlah dan dengan pengolahan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung hingga 50%.

Ragam manfaat produk laut tidak berhenti sampai di situ. Limbah kulit udang, atau dikenal dengan chitosan, mempunyai fungsi pengawet alami, antimikroba, antioksidan, penjerat lemak, hingga pelembap. Menurut Dr. Ir. Linawati Hardjito, M.Sc., dosen dan peneliti di Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, produk kosmetik yang berbahan baku chitosan dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi kulit.

Pada produk pangan, rumput laut memberi manfaat sebagai sumber serat, pengenyal, pengental, dan penstabil emulsi. Sedangkan Sedangkan dalam kosmetik, “Semua jenis rumput laut itu melembapkan. Namun, setiap jenis rumput laut punya spesifikasi manfaat masing-masing,” tutur Lina saat ditemui AGRINA di rumahnya di kawasan Cibanteng, Bogor, Jawa Barat.

Produk Kecantikan

Selama bertahun-tahun melakukan penelitian mengenai bahan-bahan aktif dari laut, Lina mencoba mengaplikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk yang lebih mudah diterima masyarakat. Ia lalu mendirikan CV Ocean Fresh yang memproduksi berbagai produk kecantikan berbahan dasar rumput laut dan chitosan. Dengan tambahan bahan lain yang juga berasal dari laut, ia meramu shampo, sabun, body lotion, facial wash, hingga krim malam.

“Semua produk pasti ada rumput laut dan chitosannya. Rumput laut pun bukan hanya satu. Ada Cottoni (Eucheuma cottoni), Spinosum (E. spinosum), Sargassum, Turbinaria, Halimeda, kemudian Rhodimenia,” papar wanita yang berperan dalam Research and Development CV Ocean Fresh ini.

Masing-masing jenis rumput laut menyimpan khasiat berbeda. Jenis Cottonii misalnya, berfungsi melembapkan kulit karena dapat mengikat air. Sedangkan Halimeda yang bermanfaat sebagai exfoliator atau pengelupas sel-sel kulit mati. Lain lagi dengan Sargassum dan jenis rumput laut cokelat lainnya yang dapat meningkatkan kekenyalan kulit.

Bahan tambahan alami yang juga berasal dari laut menjadi pelengkap. Misalnya, kerang emas laut sebagai antipenuaan dini (antiaging). Ada pula pandan laut yang menjadi pewarna dan sumber antioksidan penghilang keriput. Berbagai jenis mangrove yang biasanya menjaga pantai dari abrasi ternyata ampuh sebagai tabir surya. Atau pelembap tambahan berupa gelatin yang berasal dari kulit ikan.

Empat belas produk kecantikan kini sudah dihasilkan Lina. Ada sabun batang, sabun cair, shampo, body butter, body lotion, body moisturizer, body scrub, day cream, night cream, lip moisturizer, facial exfoliator, facial mask, facial wash, hingga gel penyegar ruangan dengan bentuk binatang laut yang lucu.

Menjual Manfaat

Konsumen utama produk Ocean Fresh adalah masyarakat yang sadar akan kesehatan pribadi dan lingkungan. “Bisa dibilang ini alami karena lebih dari 80% bahan alami, dan zero waste,” tegas Lina.

Konsumen tersebut memperoleh produk melalui tiga jalur pemasaran. “Yang pertama dengan merek Ocean Fresh, yang memang langsung dari kita. Bisa secara online atau di pameran-pameran. Lalu Green Choice juga sama, begitu. Yang dengan brand Botani hanya boleh dijual di Serambi Botani IPB,” jelas wanita kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, ini.

Peraih gelar Doktor dari University of Queensland, Australia 1992 ini memaparkan, kadang ada konsumen tidak suka aromanya. Mereka bisa memilih yang berlabel Ocean Fresh. Untuk perluasan pasar ke Eropa yang sedang dijajakinya, berbagai modifikasi perlu dilakukan karena konsumen Eropa cenderung tidak menyukai aroma yang terlalu menyengat. Karena itu ia harus menggunakan pelarut asam laktat sebagai pelarut chitosan dan memodifikasi kemasan supaya lebih praktis.

Pelatihan Petani

Bahan baku rumput laut dapat dikatakan melimpah di laut Indonesia, tidak serta merta dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku. Setelah berkeliling menyusuri berbagai wilayah pantai di Tanah Air, kenyataan yang dijumpainya justru sangat berbeda. “Justru banyak di daerah-daerah penghasilnya, itu tidak dimanfaatkan,” cetus Lina menyayangkan.

Sarjana Teknologi Industri Pertanian IPB 1984 ini lantas berinisiatif untuk menjalin kemitraan dengan petani di daerah penghasil bahan baku, baik rumput laut, chitosan, hingga bakau (mangrove). Bahan baku bakau diperoleh dari wilayah Karimun Jawa, Jepara (Jawa Tengah), rumput laut jenis Halimeda dari Sumbawa Barat (Nusa Tenggara Barat), dan rumput laut Rhodimenia dari Cipatujah, Tasikmalaya (Jawa Barat).

“Kita membina kelompok tani di sana, dan kita beli hasil panennya untuk bahan baku. Jadi kami sudah punya jaringan untuk bahan baku langsung dari masyarakat, tidak mau lewat perantara. Ini agar masyarakat juga mendapatkan nilai tambah,” ungkapnya dengan wajah berbinar.

Walaupun dalam satu daerah terdapat beberapa jenis bahan baku, dia hanya mengambil satu bahan baku per daerah. Alasannya, “Supaya semua daerah punya kesempatan, walaupun di satu daerah itu banyak potensinya. Kita ingin pemerataan, kalau bisa malah di pulau-pulau terluar di Indonesia,” harapnya.

Pusat pelatihan yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini dinamakan Pusat Pelatihan Mandiri Perikanan dan Kelautan (P2MKP) Ocean Fresh. Dilaksanakan langsung di wilayah sentra bahan baku dengan peserta 10-20 orang selama 4 hari. Dengan pendampingan dan pembinaan, bahan baku yang didapatkan pun sesuai dengan persyaratan kualitas yang dibutuhkan dalam produksi.

Renda Diennazola

Infografis Pemberdayaan Petani Rumput Laut oleh Ocean Fresh